Arsip Penulis

Ayyash Cokelat Yang Memikat

Posted: Agustus 1, 2010 by Faisal Mahbub in Uncategorized

Hari Minggu, 1 Agustus 2010, akan menjadi hari yang bersejarah bagi pasangan suami-isteri Pak Malvin dan Ibu Septi member TDA Cikarang yang memulai usaha membuka outlet penjualan di Lippo Mal Cikarang.

Peristiwa ini sekaligus membawa kebahagian kepada member2 lain yang pada saat launching hari itu ikut bergabung, menebarkan kebahagiaan kepada pasangan muda ini untuk menambah semangat dan motivasi dalam memasuki arena persaingan bisnis di bidang kuliner.  Launching Ayyash Cokelat ini menjadi hajatan bersama MMC 5 dan MMC 6 TDA Bekasi-Cikarang.

Setelah melalui pergulatan yang panjang, kini Ayyash Cokelat sudah ada di sebuah Mal kawasan elit di kawasan Cikarang, yaitu Mal Lippo Cikarang.

Counter Ayyash Cokelat Di Lippo Mal Cikarang

Counter Ayyash Cokelat di Lippo Mal Cikarang sudah mencuri perhatian para pengunjung.  Penampilan Fountine Cokelatnya benar2 menggugah selera pengunjung untuk mencicipinya.  Menu ‘sate’ buah yang langsung saat itu dilumuri cokelat menjadi pilihan favorit pembeli kaum remaja.  Sementara anak2 lebih menyukai lolipop cokelat.

Fountain Cokelat Yang Menggiurkan.

Lokasi counter yang strategis di Lantai 2, yang menghubungkan area utama mal dengan hyper mart, menjadikan Ayyash Cokelat berada di jalur yang sering dilewati pengunjung.  Tidak jarang beberapa pengunjung mendadak berhenti dulu untuk sekedar mampir ke counter Ayyash Cokelat.

Pengunjung Yg Mampir Ke Counter Ayyash Cokelat

Melihat hasil yang diperoleh selama hari pertama launching Ayyash Cokelat ini, mudah2an bisa bertahan dan berkembang seperti yang dicita-citakan oleh pemiliknya.  Memang, masih ada beberapa hal lagi yang mesti diperbaiki sebagai upaya untuk mendukung keberhasilan penjualan lebih lanjut.

Kepada Pak Malvin dan Ibu Septi, kami atas nama MMC 5 dan MMC 6 mengucapkan selamat dan sukses atas launching Ayyash Cokelat di Lippo Mal Cikarang.  Mudah2an akan terus diikuti dengan pembukaan counter2 di tempat lain. Amien…

Pak Malvin dan Ibu Septi, Owner Ayyash Cokelat

Salam Sukses.

Faisal Mahbub

Iklan

Napak Tilas Ke Kota Banjaran

Posted: Juli 26, 2010 by Faisal Mahbub in Uncategorized
Tag:, ,

Ketika belum tuntas membaca satu halaman surat kabar pagi, tiba-tiba aku dikejutkan dengan bunyi musik ‘Paradise City’ dari super group Guns and Roses… ahh, itu bunyi ringtone HP ku.  Ketika aku tengok ‘incoming call’ rupanya dari Mamah di Bandung, buru-buru aku jawab panggilan itu.

Terdengar suara yang sangat tidak asing bagiku… ‘ assalamualaikum Aa, bisa ke Bandung gak hari minggu besok. Uci, keponakanmu, mau ada yang melamar’.  Lalu aku jawab : ‘Insya Allah Mamah, Aa pasti datang. Dimana acaranya ?’, dan Mamah menjawab singkat ‘ di Banjaran…’

Banjaran…. Ahh, pikiranku segera tertuju kepada ingatan masa kecil ketika diajak beranjangsana oleh orangtuaku ke kota kecil di sebelah selatan kota Bandung itu, seraya aku menutup pembicaraan itu dengan saling mengucap salam.

Hari Minggu, tanggal 25 Juli 2010, jam 6.00 pagi aku memulai perjalanan ke Bandung dan dilanjutkan ke kota Banjaran dengan semangat napak tilas ke kota kecil itu disamping memenuhi undangan Mamah untuk menghadiri acara lamaran, keinginan terbesarku adalah mendapatkan makanan favoritku semasa kecil yang memang berasal dari daerah ini yaitu Borondong Garing, jenis makanan ringan yang terbuat dari jagung kering yang digiling halus dicampur dengan gula aren dan dicetak menjadi bola-bola kecil.  Inilah ‘pop corn’ tempo doeloe.

Tidak hanya borondong garing yang bisa dihasilkan di daerah ini.  Ada kawasan yang bernama Ciherang, yang menjadi favorit ibu-ibu untuk mengunjunginya, pasalnya di sini adalah sentra penjualan rujak. Ya, rujak… yang sehari-hari bisa kita lihat abang-abang penjaja rujak melewati rumah kita.  Rujak seperti itu.  Tapi jangan tanya soal Rujak Ciherang, konon penjualannya sudah go international.  Makanan wajib untuk para jemaah haji (ibu-ibu tentunya) yang berasal dari Jawa Barat yang harus dibawa ke Tanah Suci.

Lalu ada opak asin dan manis.  Makanan ini biasa dijumpai ketika perayaan lebaran tiba.  Hampir di setiap keluarga di Jawa Barat selalu menyediakan makanan ini.  Sejenis makanan kering yang terbuat dari beras ketan.

Kesan pertama ketika memasuki alun-alun kota Banjaran, tidak banyak berbeda dengan kota-kota lainnya di Jawa Barat, ramai dan padat.  Mesjid kota masih berdiri gagah di antara bangunan pertokoan modern.  Lapangan alun-alun sudah tanpa rumput sekali.  Dan ini dia, angkot yang beraneka warna selalu saja menjadi biang masalah di jalanan.

Suasana kota Banjaran saat ini.

Namun kepenatan di jalanan kota, segera sirna diganti dengan keindahan alam dimana lokasi acara itu dilangsungkan.  Aihh, pintar juga kakak iparku memilih lokasi kediamannya di tengah2 persawahan dan kebun kopi.

Sisi indah kota Banjaran

Singkat cerita, sesudah acara lamaran selesai kami sekeluarga segera pamit dan aku sendiri sudah tidak sabar lagi untuk mencari apa yang sepanjang hari itu diidam-idamkan.  Ketika mobil kami dalam arah kembali ke Bandung memasuki daerah Ciherang, terlihatlah sebuah toko yang… Masya Allah, tidak berubah sama sekali sejak dari dulu ketika aku kecil dengan papan nama sederhana tetapi sangat legendaris ‘Rudjak Ciherang’.

Papan nama yang legendaris itu.

Segera saya melesat keluar dari mobil dan memburu toko itu. Dan sesaat mataku terpana kepada satu kantung plastik yang berisi bola-bola jagung kering. Ya, itu borondong garing. Segera aku pesan beberapa kantung, tidak lupa pula bumbu rujak Ciherang yang akan aku persembahkan kepada isteri di rumah.

Borondong Garing dan Bumbu Rujak,

Tunai sudah janji bhakti ini.  Makanan-makanan itu aku dekap terus selama perjalanan pulang.  Aku pandangi borondong itu, dan pikiranku dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa indah masa lalu.  Ketika pulang ngaji di madrasah, mencari belut di pematang sawah, senyum ramah almarhum kakek yang selalu menawarkan borondong kepadaku, balapan lari dengan teman-teman semasa kecil dengan garis finish di warung penjual borondong.

Senyum kecil tersungging, harga makanan ini tak seberapa.. tapi nilai kenangannya sangat tidak ternilai.

Ditulis oleh,

Faisal Mahbub

http://faisalmahbub.blogspot.com/

http://www.facebook.com/faisal.mahbub

Ketika Bisnis Harus Memilih

Posted: Juli 23, 2010 by Faisal Mahbub in Uncategorized

Kisah berikut ini menceritakan pengalaman langsung yang dialami oleh saya dan isteri ketika harus membuat sebuah keputusan dalam konteks bisnis.  Keputusan ini tentu saja dilatarbelakangi dengan pertimbangan2 bisnis  yang didasari dengan prinsip efektif dan efesien, membaca peluang, dan menakar keuntungan.

Seperti diketahui, selain saya menjalankan usaha distro OPS ‘aseli ti bandung’, saya bersama isteri adalah pemegang waralaba ‘Semerbak Coffee’ sebuah bisnis minuman coffee blending dengan konsep booth outlet.  Sejarah kami memasuki bisnis ini adalah ketika ada acara reuni SMPN 3 Jakarta, dimana isteri saya adalah salah seorang alumninya, bertemu dengan Bp Muadzin yang ternyata adalah salah satu pendiri dan pemilik Semerbak Coffee.  Mungkin karena satu alumni, tanpa banyak kesulitan kami mendapatkan kesempatan untuk bermitra menjalankan bisnis waralaba ini di Cikarang.

Saat itu yang terpikir adalah membuka outlet di Lippo Mal Cikarang, hanya saja permintaan kami masuk dalam daftar tunggu karena ada outlet lain yang sama dan sejenis tetapi menggunakan merk lain.  Kami tidak bisa menunggu, pilihan berikutnya adalah Plaza JB.  Di tempat inilah kami bisa mendapatkan kavling dan mulai menjalankan usaha ini pada bulan Februari 2010.  Sudah lazim dalam dunia bisnis ada yang disebut target penjualan.  Kami menargetkan penjualan sebanyak 30 cup per hari untuk mencapai Break Even Point (BEP) dalam jangka waktu 6 (enam) bulan, dan kenyataan di lapangan adalah target itu bisa dicapai pd waktu hari Sabtu dan Minggu (week end) sedangkan sisa harinya penjualan kami dibawah target yang ditetapkan.  Kami tetap bertahan dan terus berpikir untuk melakukan manuver2 untuk mendongkrak penjualan.

Lalu, datanglah kesempatan itu.  Ketika saya berbincang-bincang dengan Pak Ruwiyono Hadi, pemilik kursus musik JM dimana puteri sulung saya Ola adalah murid kursus piano disana, Pak Rui (demikian beliau biasa disapa) mempunyai rencana untuk membuka Café di depan studio musiknya.  Naluri bisnis sy saat itu langsung mengatakan bahwa ini sebuah kesempatan untuk meningkatkan omzet penjualan semerbak coffee yg sedang berjalan.

Saya dan isteri melaksanakan perundingan khas kami, yaitu di dapur.  Sambil menikmati kopi pagi dan sang isteri memotong bawang merah untuk menyiapkan nasi goreng sarapan kami, mulailah kami membahas kemungkinan memindahkan bisnis semerbak coffee dari Plaza JB ke Café JM.  Suasana saat itu mirip diskusi ekonomi antara Sri Mulyani dan Faisal Basri….. dari mulai anilisis SWOT sampai dengan analisis keuangan model terbaru (harap maklum saja, isteri saya seorang factory account di sebuah perusahaan besar) semua dikupas tuntas diselingi dengan teriakan anak2 kami yang sudah mulai kelaparan minta sarapan.

Dan inilah minutes of meeting rapat ekonomi yang dilaksanakan di dapur rumah kami itu :

  • Bertahan di Plaza JB akan menambah masa pengembalian modal dikarenakan target penjualan per hari tidak tercapai.
  • Lokasi Café JM sangat strategis yaitu di jalan Tarum Barat II yang merupakan jalur utama alternative untuk keluar masuk ke kawasan Jababeka II.
  • Biaya sewa tempat dan overhead lebih murah sehingga bisa menekan biaya operasional.
  • Café JM adalah berlokasi di JM musik studio, yang sudah mempunyai cukup banyak murid yang umumnya adalah anak2 sampai remaja. Ini adalah potential captive market yang tidak boleh dilewatkan.
  • Proses pemindahan booth akan menimbulkan persoalan teknis, tetapi kami sepakat akan dihadapi bersama.
  • Dan terakhir tetapi yang paling utama adalah semua kami serahkan kepada Sang Maha Pengatur Kehidupan, Tuhan YME.  Kami hanya melaksanakan tugas2 sebagai manusia yg sedang berjuang memperbaiki keadaan dan Tuhan akan menjalan tugasNYA sebagai Sang Maha Pemberi Rahmat.

Mulailah kami menjalankan proses pemindahan booth semerbak coffee dari Plaza JB pertengahan bulan Juli 2010, yang ternyata diwarnai dengan suka dan duka.  Saat itu, setelah kami sudah berhasil membongkar booth, kami berniat untuk mengangkut menggunakan mobil milik kami.  Ya, betul… tujuannya supaya lebih irit.  Tetapi apa daya, setelah dibolak-balik booth itu tetap tidak bisa masuk kedalam mobil kami.  Lalu pandangan saya tertuju kpd sebuah mobil box yang sedang parkir tak jauh dari tempat kami.  Saya menawarkan untuk meminta jasa sang sopir yang sedang tiduran di belakang kemudi.  Ternyata dia sedang menunggu barang yang akan diangkut dan masih punya waktu beberapa jam luang.  Singkat kata pak sopir bersedia membantu.  Tanpa kesulitan berarti semua booth dengan sekejap sudah ada di dalam mobil box itu.  Mulailah perjalanan pemindahan booth itu.

Bagi mereka yang tinggal di kawasan jababeka II Cikarang Baru sudah pasti tahu bahwa untuk memasuki kawasan pemukiman ini dihadang dengan banyak portal.  Bukannya kami tidak tahu tentang ini, tetapi tidak ada salahnya mencoba siapa tahu mobil box ini bisa melewati portal.

Benar juga, mobil box ini tidak bisa melewati portal di jalur jl Tarum Barat padahal lokasi café JM sudah terlihat dari jauh.  Cari solusi, jalan melingkar.  Lalu kami berbelok-belok mencari jalan alternative melalui jalan2 kecil jalur jl. Singa raya, jl. Rusa, jalan kampung yang tidak ada namanya, dan…. Terhadang lagi portal di kawasan jl. Kelinci. Alamak…

Akhirnya, atas inisiatif teman saya yang membantu, dianjurkan untuk meminta bantuan si Engko Halim, bos nya material Fajar Jaya agar bisa meminjam mobil carry bak yang ukurannya lebih kecil sehingga bisa menembus portal.  Singkat kata, atas kebaikan hati Engko Halim kami diberi pinjam mobil carry bak nya.  Dan booth yang sudah dibongkar itu di-pindahmobil-kan di depan material.

Tanpa hambatan yang berarti, selanjutnya booth itu sampailah di pelataran café JM untuk di re-build lagi.  Saat itu bertepatan dengan soft launching café JM dan booth semerbak coffee sudah berdiri di sana.

Dan apa yang terjadi pada hari-hari awal beroperasinya semerbak coffee di café JM, membesarkan harapan kami.  Omzet penjualan pada hari kerja (senin s.d. jum’at) jauh melebihi di tempat yang lama.  Itu berarti kalau omzet week-end juga bisa melebihi paling tidak sama dengan yang terdahulu maka kami bisa mengatakan bahwa kami tidak salah dalam memilih keputusan…. Paling tidak sampai saat ini.

Kisah ini kami ceritakan kepada pembaca sekedar berbagi pengalaman, bahwa tidak usah ragu dalam mengambil keputusan.  Disaat harus memilih, pertimbangkanlah masak2 berbagai faktor yang terlibat.  Selanjutnya serahkan semua sisanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan menentukan proses finishing touch nya.

Terima kasih.

Salam hangat,

Faisal dan Ita

http://opsdistro.wordpress.com/

http://faisalmahbub.blogspot.com/

Katakan Dengan T-Shirt

Posted: Juli 20, 2010 by Faisal Mahbub in Uncategorized

Dilihat dari sejarah kemunculan t-shirt sebagai produk fashion alternative, mulai dipopulerkan oleh James Dean pada era Tahun 60-an. Pada zaman itu James Dean menjadi icon remaja2 Amerika Serikat sebagai trend setter yg banyak ditiru dalam hal gaya dan penampilannya. Ketokohan James Dean sebagai idola anak muda AS saat itu makin kuat ketika ia meninggal dunia secara tragis dalam usia muda akibat kecelakaan. Mulai saat itu semakin populer lah segala atribut2 yg identik dengan James Dean seperti celana jeans ketat, jaket kulit dan tentu saja t-shirt banyak dipakai oleh remaja2 AS saat itu sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan terhadap tokoh ini.

Selanjutnya, t-shirt juga mulai digunakan sebagai ‘alat politik’. Contohnya seperti yang terjadi di negeri kita sendiri pada saat meletusnya peristiwa Malari sekitar Tahun 1974. Mahasiswa2 kita saat itu mengungkapkan protes kepada pemerintah melalui kata2 yang dicetak pada t-shirt. Penggunaan t-shirt sebagai media propaganda politik terus berlanjut sampai sekarang ini. Dalam kegiatan pemilihan umum (pemilu) semua partai politik memproduksi t-shirt dengan memasang logo partainya secara besar-besaran. Demikian juga dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) setiap calon memanfaatkan t-shirt yang bergambar dirinya untuk keperluan kampanye.

Kenyataan di lapangan, peminat t-shirt adalah kaum remaja terutama yang masih bersekolah di SMA dan mahasiswa. Tidak mengherankan karena dalam rentang usia itu adalah masa-masa dimana seseorang ingin bebas, simple dan casual. Dalam masa-masa inilah kaum remaja sudah mulai senang dengan membentuk komunitas, apakah itu musik, olahraga, automotif, ataupun hanya sekedar membuat ‘gank’ pertemanan. Biasanya untuk mengekspresikan identitas komunitasnya mereka membuat kaos dengan design dan tema kelompok komunitasnya. Komunitas musik biasanya menampilkan kaos-kaos yang bergambar grup musik idolanya. Komunitas olahraga menampilkan kaos-kaos klubnya masing-masing yang sekaligus menjadi jersey apabila dipakai dalam pertandingan. Komunitas automotif biasanya menampilkan gambar mobil atau motor yang unik, terutama desain mobil atau motor hasil modifikasi.

Dalam perkembangan selanjutnya, mengambil contoh kasus di kota Bandung yang memang sudah dikenal sebagai kota penghasil kaos-kaos bermutu, pertengahan tahun 1990-an mulai muncul outlet-outlet penjualan kaos yang lebih dikenal dengan factory outlet (FO). Sejak saat itu FO menjadi salah satu tujuan utama para wisatawan yang datang ke Bandung. Seiring dengan pesatnya perkembangan dunia kaos melalui FO, awal tahun 2000 muncul sebuah konsep penjualan yang disebut Distro. Munculnya kelompok ini dipelopori oleh sekelompok anak muda pengrajin kaos yang tidak puas dengan sistem penjualan (kerja sama) dengan pihak FO. Mulailah mereka dengan berani mendistribusikan sendiri produk kaosnya dan menamakan outlet penjualannya ini dengan ‘distro’ sebuah kata yang berasal dari ‘distribution’. Kelompok ini sangat unik, mereka berani membuka outlet walaupun itu di sebuah garasi rumah yang luasnya tidak lebih dari ukuran lapak di pasar. Berbeda jauh dengan konsep yang menjadi ukuran FO.

Distro-distro di Bandung itu terus menggeliat dan tumbuh pesat. Karena konsepnya yang sederhana dan produk kaos yang ditawarkan tidak kalah bermutunya dari FO, maka kecenderungan sekarang ini para peminat kaos lebih menyukai mendatangi distro.

Distro OPS ‘aseli ti bandung’
OPS ‘aseli ti bandung’ adalah sebuah distro yang ada di kawasan Jababeka II Cikarang. Misi kami membuka distro ini adalah memudahkan para peminat t-shirt (dan produk lainnya) yang berada di kawasan cikarang dan sekitarnya untuk bisa mendapatkan kaos-kaos produk dari Bandung yang sudah terkenal seperti brand ‘silverside’, ‘take it’, ‘bad clothes’, dll.

OPS sendiri mempunyai produk kaos dengan brand OPS. Desain-desain yang kami produksi adalah bertema parody tetapi ditampilkan secara elegan sehingga tidak bersifat sarkasme.

Mengapa kami berani membuka bisnis ini ?. Ada beberapa pertimbangan yang dijadikan dasar, diantaranya adalah negara Indonesia ini beriklim tropis yang matahari selalu muncul sepanjang tahun (apalagi di cikarang) sehingga kecenderungan orang memilih busana yang bisa membuat nyaman dalam iklim tropis, mau tidak mau kaos adalah pilihan yang tepat. Ini berarti kebutuhan orang akan kaos sebagai pilihan berbusana akan tetap tinggi.

Hanya saja kami menawarkan sesuatu yang lain, karena OPS tidak memandang kaos itu semata-mata busana tok. Sebuah kaos yang baik, menurut kami, adalah harus bisa memberikan ‘kenyamanan dan keindahan’ kepada si pemakai (fashionable). Kenyamanan berarti harus ditunjang oleh jenis bahan baku yang baik dan kualitas jahitan yang baik pula. Keindahan berarti harus menampilkan desain gambar (sablon) yang menarik yang muncul dari sebuah ide kreatif jadi tidak asal gambar. Gambar desain kaos bisa saja sebuah pesan moral yang ingin disampaikan oleh si pemakai atau desainer pembuat kaos itu, sehingga ungkapan ‘katakan dengan bunga’ bisa saja dimodifikasi menjadi ‘katakan dengan t-shirt’.

Cikarang, 15 Juli 2010

Faisal Mahbub