Ketika belum tuntas membaca satu halaman surat kabar pagi, tiba-tiba aku dikejutkan dengan bunyi musik ‘Paradise City’ dari super group Guns and Roses… ahh, itu bunyi ringtone HP ku. Ketika aku tengok ‘incoming call’ rupanya dari Mamah di Bandung, buru-buru aku jawab panggilan itu.
Terdengar suara yang sangat tidak asing bagiku… ‘ assalamualaikum Aa, bisa ke Bandung gak hari minggu besok. Uci, keponakanmu, mau ada yang melamar’. Lalu aku jawab : ‘Insya Allah Mamah, Aa pasti datang. Dimana acaranya ?’, dan Mamah menjawab singkat ‘ di Banjaran…’
Banjaran…. Ahh, pikiranku segera tertuju kepada ingatan masa kecil ketika diajak beranjangsana oleh orangtuaku ke kota kecil di sebelah selatan kota Bandung itu, seraya aku menutup pembicaraan itu dengan saling mengucap salam.
Hari Minggu, tanggal 25 Juli 2010, jam 6.00 pagi aku memulai perjalanan ke Bandung dan dilanjutkan ke kota Banjaran dengan semangat napak tilas ke kota kecil itu disamping memenuhi undangan Mamah untuk menghadiri acara lamaran, keinginan terbesarku adalah mendapatkan makanan favoritku semasa kecil yang memang berasal dari daerah ini yaitu Borondong Garing, jenis makanan ringan yang terbuat dari jagung kering yang digiling halus dicampur dengan gula aren dan dicetak menjadi bola-bola kecil. Inilah ‘pop corn’ tempo doeloe.
Tidak hanya borondong garing yang bisa dihasilkan di daerah ini. Ada kawasan yang bernama Ciherang, yang menjadi favorit ibu-ibu untuk mengunjunginya, pasalnya di sini adalah sentra penjualan rujak. Ya, rujak… yang sehari-hari bisa kita lihat abang-abang penjaja rujak melewati rumah kita. Rujak seperti itu. Tapi jangan tanya soal Rujak Ciherang, konon penjualannya sudah go international. Makanan wajib untuk para jemaah haji (ibu-ibu tentunya) yang berasal dari Jawa Barat yang harus dibawa ke Tanah Suci.
Lalu ada opak asin dan manis. Makanan ini biasa dijumpai ketika perayaan lebaran tiba. Hampir di setiap keluarga di Jawa Barat selalu menyediakan makanan ini. Sejenis makanan kering yang terbuat dari beras ketan.
Kesan pertama ketika memasuki alun-alun kota Banjaran, tidak banyak berbeda dengan kota-kota lainnya di Jawa Barat, ramai dan padat. Mesjid kota masih berdiri gagah di antara bangunan pertokoan modern. Lapangan alun-alun sudah tanpa rumput sekali. Dan ini dia, angkot yang beraneka warna selalu saja menjadi biang masalah di jalanan.
Namun kepenatan di jalanan kota, segera sirna diganti dengan keindahan alam dimana lokasi acara itu dilangsungkan. Aihh, pintar juga kakak iparku memilih lokasi kediamannya di tengah2 persawahan dan kebun kopi.
Singkat cerita, sesudah acara lamaran selesai kami sekeluarga segera pamit dan aku sendiri sudah tidak sabar lagi untuk mencari apa yang sepanjang hari itu diidam-idamkan. Ketika mobil kami dalam arah kembali ke Bandung memasuki daerah Ciherang, terlihatlah sebuah toko yang… Masya Allah, tidak berubah sama sekali sejak dari dulu ketika aku kecil dengan papan nama sederhana tetapi sangat legendaris ‘Rudjak Ciherang’.
Segera saya melesat keluar dari mobil dan memburu toko itu. Dan sesaat mataku terpana kepada satu kantung plastik yang berisi bola-bola jagung kering. Ya, itu borondong garing. Segera aku pesan beberapa kantung, tidak lupa pula bumbu rujak Ciherang yang akan aku persembahkan kepada isteri di rumah.
Tunai sudah janji bhakti ini. Makanan-makanan itu aku dekap terus selama perjalanan pulang. Aku pandangi borondong itu, dan pikiranku dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa indah masa lalu. Ketika pulang ngaji di madrasah, mencari belut di pematang sawah, senyum ramah almarhum kakek yang selalu menawarkan borondong kepadaku, balapan lari dengan teman-teman semasa kecil dengan garis finish di warung penjual borondong.
Senyum kecil tersungging, harga makanan ini tak seberapa.. tapi nilai kenangannya sangat tidak ternilai.
Ditulis oleh,
Faisal Mahbub








borondong garing…(kan ada lagunya ya pak?)
Iya pak.. diabadikan dalam sebuah lagu ‘Borondong garing’.
gimana lagunya?
Pak Eko, download aja mp3 nya.. kecuali blog ini sdh ada menu bisa nyanyi disini..
hahahaha…
Salam sahabat.